Buku Medstud’s Traveler Memberikan Tips dan Trik Untuk Traveling

Spread the love

Jakarta, Buku Medstud’s Traveler ini sebenarnya berbeda dengan buku traveller-traveller lainnya yang sudah cukup banyak. Saya mencoba membagi buku ini menjadi satu buku pergerakan yang didalamnya ini ada tips & trik untuk menjadi mahasiswa penggerak yang haus akan ranah internasional ungkap dr Taufik Supriyana Trisaputra usai acara Launching Buku Medstud’s Traveler di Gramedia Central Park Jakarta, Senin (5/12/22).

Dalam buku Medstud’s Traveler menurut dr Taufik menjelaskan kisi-kisi agar bisa aktif di acara internasional itu. Bahkan hal-hal detail kayak mengurus visa dan mengurus paspor ada di dalam buku ini. Selain itu buku ini juga membahas mengenai keindahan-keindahan negara yang saya kunjungi ada totalnya sekitar 16 negara. Di tiap negara itu selain dari nilai historisnya, ada yang melatarbelakangi historis negara tersebut.

Seperti contoh negara Slovenia yang mungkin banyak orang yang tidak tahu, saya mengambil dari sudut itu. Saya berharap dari buku ini bisa membuat mahasiswa-mahasiswa itu makin termotivasi untuk bisa bergerak baik itu di ranah organisasi, ranah akademisi, dan seluruh ranah yang mungkin masih bisa banyak sekali yang harus digerakkan. Karena sejatinya di tiap perjalanan pergerakan itu pasti akan dapat manfaat dan hikmah dibalik itu.

Di buku Medstud’s Traveler dikemas dengan kata-kata yang menarik, kata-kata yang kira-kira penafsirannya itu bisa membuat orang ini seolah ada di sana. Pembaca butuh cerita yang lebih menarik. Saya mulai menulis 2019 bukunya selesai dalam waktu 1 tahun 2 bulan. Tetapi karena pandemi baru hari ini kami launching. Bukunya ada di Gramedia sejak bulan September.

Semoga dari production house ataupun pihak yang lain ada yang melirik buku ini bukan hanya sebatas travelling, karena ada sisi edukatifnya. Sekarang generasi yang mulai aktif ini generasi Z generasi yang saat ini generasi yang realistis. Dengan buku travelling ini bisa bergerak dan artinya dinamis. ini bisa menjadi langkah generasi Z bisa aktif bergerak untuk kemajuan Indonesia punya peranan dan ada sumbangsihnya.

Buku ini itu spesial kata dr Taufik ada sisi edukatifnya karena di dalam buku ini juga memberi tips & trik. Saat jadi mahasiswa kita bisa traveling ke banyak negara itu tidak harus dari duit sendiri dijabarkan di buku ini. Buku ini membahas seperti cara dapat beasiswa, berangkat ke luar negeri itu tercover dan dari institusi mana semua itu ada penjelasannya. Pada umumnya kalau orang dengar kata-kata mahasiswa kedokteran method medical student yang ada di benaknya waktunya habis sudah tidak ada waktu untuk main-main atau jalan-jalan. Sehingga itu bagi orang-orang kok bisa. Buku ini penuh pengalaman saya pribadi bukan hanya sebatas saya travellingnya saja.

Bahkan waktu itu saya sedang berat-beratnya punya amanah karena saya jadi mahasiswa kedokteran dan Presiden Mahasiswa Kedokteran Indonesia dari SMKI. Itu beban yang sangat berat tapi saya buat cara buku ini menarik. Ternyata kalau ada kemauan pasti ada jalan dan jalannya untuk bisa menjadi traveler bahwa kita seorang mahasiswa – mahasiswa kedokteran itu ada yang bisa. Dari 16 negara itu yang saya kunjungi tidak menggunakan dana pribadi. Negara- negara yang dikunjungi yaitu Malaysia, Singapore, Thailand habis itu Korea Selatan, Hongkong, Taiwan, Eropa, Turki Lalu ada lagi Italia habis itu Perancis, Jerman, Belanda habis itu Kroasia, Inggris lalu Slovenia dan sekitar Eropa sisanya.

Saya  sendiri sedang menempuh  S2 dan ada program dan rencana saya berangkat ke Amerika.  Sebagai informasi saya yang merupakan bagian dari presiden periode 2018-2019 itu,  sebagai Presiden Mahasiswa Kedokteran itu terpilih lalu 2019-2020 saya selaku presiden mahasiswanya presiden SMKI. Lalu 2020-2021 saya jadi Majelis Pertimbangan Agung atau dewan penasehat saya kebetulan juga aktif di bidang itu, lanjutnya.

Pertama kali event saya ikut kegiatan internasional karena perlombaan HUT acaranya yang di Malaysia. Total Eksemplar Buku yang tersebar di seluruh Indonesia itu sekitar 1500 bagian penerbit. Rencana ke depan saya buat buku ini untuk pergerakan sosial bukan ujug-ujug ingin mendapat keuntungan komersil. Bahkan kalau memang bisa pemasukan dengan cara itu rencananya kita akan ke Perpustakaan Nasional.

Harapan kedepannya agar milenial bisa kembali baca buku. Sekarang era digital semua menjadi dimanjakan yang biasanya baca sekarang nonton. Kepada generasi milenial, generasi Z, bahkan generasi baby boomers setelahny semoga mereka tidak lupa bawa tetap selalu harus membaca. Karena dalam agama pun mengajarkan bahwa yang pertama adalah Iqra membaca. Level berikutnya setelah kita senang membaca kita bisa menulis. Membaca dari tontonan dalam era digital ini ambil hikmah intisarinya kalau yang baik diambil yang jelek untuk pembelajaran agar kita tidak terjerumus di hal itu, pungkasnya.