Elliana Wibowo (Anak Dari alm Surjo Wibowo Pendiri Blue Bird Group) Menggugat PT. BLUE BIRD. Tbk

Spread the love

Jakarta, Menurut saya, pemberitaan yang yang beredar di publik saat ini adalah pemutar balikkan fakta hukum/pengaburan fakta yang sesungguhnya. Adanya klaim dari Management Blue Bird TBK (saudara Sigit Suharto Djokosoetono dan saudara Yusuf Salman) bahwa Blue Bird Group adalah milik satu keluarga saja (Ibu Mutiara Djokosoetono) adalah sebuah penyesatan informasi dan pembohongan publik ungkap Elliana Wibowo (Anak Dari Pendiri Blue Bird Group) dengan didampingi kuasa hukumnya S Roy Rening di Madame Delima Cafe Jakarta, Kamis (18/8/22).

Perlu saya jelaskan, Ayah saya, Alm. Surjo Wibowo, pria kelahiran Ponorogo (Jawa Timur) 1 Januari 1921 adalah putra dari pengusaha besar nan terkenal dari Ponorogo dan Surabaya (Jawa Timur), namun demikian dalam kesehariannya beliau sangatlah bersahaja dan bersifat “menerimaā€¯. Sejak dahulu orang tuanya sudah memiliki berbagai macam usaha di Jawa Timur, seperti : pom bensin, perusahaan batik, pabrik rokok, perusahaan importir makan dan minuman dari Eropa, toko emas, berlian, perhiasan, dll. Pada akhir tahun 1940-an, keluarga mereka pindah ke Jakarta dan meneruskan usaha-usahanya : pabrik rokok, pabrik batik, pabrik kembang api, transportasi, dan importir makanan, serta pedagang perhiasan beber Elliana.

Alm. Surjo Wibowo bersama istrinya (Janti Wirjanto), yang juga putri pengusaha besar dari Pekalongan, sejak tahun 1950-an telah berkecimpung juga dalam bidang usaha transportasi, yaitu : perbengkelan, Suburban, taxi limousine (Mercedes Benz, Opel, Holden, FIAT, dll) dan mendapatkan penunjukkan langsung dari Presiden RI (Ir. Soekarno) untuk melayani transportasi Asian Games tahun 1962 serta memiliki dealership mobil Eropa ( FIAT juga importir Chassis Truck, dll). Pada tahun 1967 Alm. Surjo Wibowo juga telah memiliki suatu bank swasta (Bank Perimbangan) di Jakarta Pusat jelas Elliana.

Selanjutnya, pada tahun 1971 Gubernur DKI Jakarta (Ali Sadikin) mengeluarkan izin resmi taxi ber-argometer dengan persyaratan antara lain adalah : harus menyediakan minimum 100 unit kendaraan baru dan harus memiliki lahan pool sendiri beserta semua fasilitas penunjangnya. Kebetulan pada saat itu yang dapat memenuhi persyaratan tersebut di atas adalah kel. Alm.Surjo Wibowo berupa sebuah perusahaan yang kredibilitas dan finansialnya telah mapan (PT. Semuco) dan lahan pool dan bengkelnya beserta SDM handal yang dimilikinya di jalan Garuda No. 88-90 Kemayoran, Jakarta Pusat yang sampai saat masih dipergunakan sebagai pool dan kantor Blue Bird taxi adalah milik keluarga almarhum Surjo Wibowo. Sehingga, dengan segala kemapanan dan pengalaman mengelola usaha bidang transportasi beserta fasilitas yang dimiliki oleh PT. Semuco pada saat itu akhirnya pada bulan November 1971 mendapat ijin Usaha Pertaksian DKI.

Menindak lanjuti penunjukan izin Usaha Pertaksian DKI tersebut pada PT. Semuco tsb, maka kedua keluarga (SW dan MD ) mendirikan sebuah perusahaan baru yang dinamakan PT. Sewindu Taxi. Pada saat itu PT. Sewindu Taxi dengan mudah mendapatkan sejumlah pinjaman dana usaha dari beberapa bank terkemuka di Jakarta karena kredibilitas dan nama baik Alm. Bapak Surjo Wibowo (Personal Guarantor) dan PT. Semuco (sebagai bank guarantor). Kemudian dengan perkembangan perusahaan taxi yang semakin membaik, pada tahun 1980-an, para pendiri PT Sewindu Taxi telah sepakat melalui RUPS mengubah namanya menjadi PT. Blue Bird Taxi. Sehingga, sejarah pendirian taxi Blue Bird, dimulai dengan PT. Semuco, PT. Sewindu Taxi yang merupakan cikal bakal dari Blue Bird Group.

Dalam perjalanannya PT. Sewindu Taxi telah memiliki berbagai anak perusahaan antara lain: PT.Big Bird (Chartered Bus),dll. Pada sekitar tahun 1990-an PT. Blue Bird Taxi tsb juga memiliki beberapa anak perusahaan antara lain: PT.Ziegler Indonesia, Hotel Holiday Resort (Lombok), RITRA Warehouse, dll. Sehingga sebenarnya Pendiri Utama Blue Bird Group (PT. Blue Bird Taxi yang dahulu bernama PT. Sewindu Taxi/PT. Semuco) adalah Alm. Bapak Surjo Wibowo dan Almh. Ibu Mutiara Djokosoetono.

Pasca peristiwa pengeroyokan dan penganiayaan (Korban Ibu Janti dan Elliana Wibowo) tidak berani lagi memasuki Gedung Blue Bird tersebut dan pool-pool lainnya. Tahun 2001 kel. Purnomo Prawiro dan Chandra Suharto mulai mendirikan perusahaan taxi dan bus pariwisata yang serupa dengan Blue Bird Taxi dan Big Bird, yang dinamakan PT. Blue Bird dan PT.Big Bird Pusaka (Perusahaan dalam Perusahaan) dimana manajemen perusahaan-perusahaan pribadi tersebut dicampuradukkan dengan manajemen PT Blue Bird Taxi dan PT. Big Bird.

“Pada 23 Mei diadakan RUPS. Setelah selesai rapat tersebut, di depan ruang rapat dengan tiba-tiba Purnomo Prawiro beserta istrinya Endang Basuki, anaknya Noni Purnomo, menantunya Indra Marki beserta sejumlah besar pasukan keamanannya yang berbadan besar mengepung, mengeroyok, menganiaya, memaki-maki, memukuli, menendang, mendorong ibu saya dan saya sendiri. Sungguh merupakan perbuatan yang tidak berperikemanusiaan,” tuturnya sambil menunjukkan bukti rekaman saat berlangsung peristiwa tersebut.

Pasca peristiwa pengeroyokan dan penganiayaan tersebut, Elliana Wibowo beserta ibu tidak berani lagi memasuki Gedung Blue Bird dan pool-pool lainnya. Tahun 2001, keluarga Purnomo Prawiro dan Chandra Suharto mendirikan perusahaan Taxi dan bus pariwisata yang serupa dengan Blue Bird Taxi dan Big Bird, yang dinamakan PT Blue Bird dan PT Big Bird Pusaka.

Pada Juni 2013, Purnomo Prawiro dan keluarga Chandra Suharto menyelenggarakan RUPS yang memutuskan untuk diberlakukannya sistem Manajemen Operasional Bersama (MOB) antara perusahaan pribadinya (PT Blue Bird, PT Pusaka Djokosoetono dan lain-lain) dengan PT Blue Bird Taxi.

Pada tahun 2014, keluarga Purnomo Prawiro dan keluarga almarhum Chandra Suharto memutuskan untuk go public perusahaan pribadi mereka. Pada 11 Mei 2015 dilakukan RUPS PT Blue Bird Taxi yang agenda rapatnya penambahan modal Rp 50 miliar dari para pemegang sahamnya dengan konsekuensi bahw bagi pemegang saham yang tidak turut serta maka jumlah sahamnya akan dikurangi sesuai komposisi perhitungan masing-masing.

“Hal itu upaya jahat merampok saham pendiri dengan cara-cara yang melanggar norma moral dan norma hukum. Saya menilai upaya ini merupakan perbuatan sistematis, terstruktur dan masif untuk mengambil saham-saham milik pendiri Blue Bird (Elliana Wibowo dan Lani Wibowo pemegang saham 20%) untuk menguasai saham Blue Bird tanpa melalui proses jual beli saham yang sah menurut hukum,” tandasnya.