Dewasa Dalam Menyikapi Pinjaman On Line

Spread the love

Jakarta, Dalam rangkaian HUT Ke 17, Indopos co. id menggelar FGD dengan tema Dewasa Dalam Menyikapi Pinjaman On line Hotel Ibis Slipi Jakarta, Senin (27/1/2020).

Sambutan dari Penanggung Jawab Acara Syarif Hidayatulloh mengatakan pinjaman On Line sama seperti dengan teknologi jasa keuangan. Pinjaman yang keluar 75 Triliun di tahun 2019. Masalah yang timbul bunga, penagihan. Dulu disurvei mungkin dengan waktu 20 hari kerja tapi sekarang lebih cepat prosesnya.

Tulus Abadi dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengatakan
Pinjaman On line ditengah masyarakat yang belum dewasa akhirnya timbul banyak permasalahan. Saya lanjut Tulus sudah warning dari tahun 2018. Agar kita waspada dengan pinjaman On Line ini.

IKK ( Indeks Keberdayaan Konsumen) Indonesia belum optimal dan masih cukup rawan. Literasi kita masih rendah menurut PBB dari 1000 orang yang aktif membaca buku adalah 1 orang. Pengawasan yang belum sinergis dan lemah. Konsumen harus membaca syarat dan ketentuan. Konsumen tidak membaca tapi klik klik pinjaman on line terus cair ungkap Tulus.

Sejak 2012 pengaduan di YLKI dominan masalah jasa keuangan (posisi rating pertama) sedang di Hong Kong pengaduan jasa keuangan menduduki rating 15. Di negara maju banyak pengaduan di masalah tersier seperti masalah kecantikan, perceraian dan lainnya. Pengaduan yang masuk di YLKI 1871 lebih tinggi dibanding pengaduan yang ada di Badan Perlindungan Konsumen Indonesia beber Tulus.

Lima besar pengaduan YLKI 2019 : Bank,
Pinjaman on line, Perumahan, Belanja On line dan leasing. Permasalahan pinjaman on line : Penagihan, pengalihan Kontak, Permohonan Reschedule, Suku Bunga, Administrasi, Penagihan Pihak Ke 3. Kita belum punya UU Perlindungan Pribadi papar Tulus.

Selain itu Tulus berharap ketegasan regulator untuk mengefektifkan pengawasan terhadap lembaga pinjaman on line ditengah IKK dan literasi yang rendah. Mendorong UU Perlindungan Data Pribadi yang masih dalam proses penggodokan. Kadang kadang kita suka terkecoh dengan pinjaman on line.

Ketua Harian AFPI (Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia) Kuseryansyah mengatakan Fintech
pertumbuhannya sangat cepat. Kita punya kredit gap 1000 triliun. Segmen un Bank tidak terlayani Bank. Tanggung jawab kita semua. Ada satu Fintech menggunakan teknologi melakukan penyisiran kembali dengan analisa dan bisa dilayani. Tugas mulia kita adalah melayani yang tidak dilayani Bank.

Sekarang 164 Platform terdaftar di OJK dengan tiga kluster. Tugas kita memberikan pelayanan yang Un Bank.
Pemerintah mengumumkan industri keuangan Indonesia 53%. Dinamika pinjaman sangat besar. Kami yang terdaftar di OJK (legal) melayani kurang lebih 20 Juta orang.

Kami juga memberikan masukan kepada regulator. Kami juga punya cord of conduct. Tantangan kita melakukan literasi dan edukasi Fintech. Masyarakat jangan sampai terlalu banyak pinjaman atau gali lubang tutup lubang.

Indonesia sangat berbeda sentimennya dengan Negara maju. Indonesia justru kolaborasi dengan semua pelaku keuangan. Fintech kolaborasi dengan BRI dan banyak Bank lainnya. Indonesia lebih cocok kolaborasi.

Yang sekarang ini kita jalankan dengan BPR E Commerce dan Bank Bank Regional. Lender dan Borrower harus kita lindungi. Menurut kami, kami lebih transparan. Pencegahan pinjaman berlebih. Praktek penagihan yang manusiawi tegas Kuseryansyah.